Hujan tak lagi setia
Hilang sudah musim penghujan
Panaspun datang pergi begitu saja
Kapan itu musim kemarau
Hanya siang dan malam yang masih
kenal waktu
Ada batas pasti yang patut diikuti
Aku dan kamu saat dibawah rintik
sore itu
Menemani air mata yang berderai
Di pipimu di pipiku
Tentang salah dan benar yang tak
diterima logika kita
Lalu ayahmu dengan sahajanya
Berpetuah untuk kita
“Belajarlah memaafkan
ketika hatimu dibelenggu benci
karena maafmu adalah obat untuk
hatimu sendiri
jikapun dia salah
salahnya akan terhapus oleh maafmu
namun yang
tak kau ketahui
bisa jadi salahnya adalah karena
salahmu
atau bisajadi penilaian salahmu pada
dia
murni atas kesalahanmu sendiri
karena dirimu yang begitu gelap tertutup
emosi
karena dirimu yang begitu gelap
tertutup dengki dan iri hati
hingga tak kau lihat kebaikan dan
usaha dia yang mengerti kamu
dia bukanlah malaikat ketika kau
memujanya
dia bukanlah iblis ketika kau
membencinya
dia adalah layaknya dirimu
tempatnya salah dan kekurangan
tempatnya emosi dan kebodohan
tempatnya kau mengerti dan kau memaafkan
diantara kalian adalah setan
yang menggoda dan mengusik kalian
hingga kalian ikut dia
atau kalian membantainya dengan
ilmumu”.
Senja itu
Air mata kita
Adalah air mata cinta.



